Jakarta, CNBC Indonesia – Pengusaha yang bergerak di sektor komoditas nikel belakangan ini nampaknya cukup sumringah. Hal itu imbas melejitnya harga nikel sepanjang tahun berjalan ini.

Pada Selasa (23/4/2024) harga nikel dunia hampir menyentuh US$ 20.000, tepatnya US$ 19.675 atau setara Rp 317,8 juta per ton (asumsi kurs Rp 16.157 per US$). Dengan begitu, dalam hitung-hitungan┬áharga 1 ton atau ‘sekarung’ nikel ini bisa untuk membeli 1 unit Mitsubishi Xpander.

Mengutip situs mitsubishi-motors, Kamis (25/4/2024) Mitsubishi Xpander tipe Sport CVT misalnya, dibanderol Rp 314,5 juta. Sementara untuk tipe Ultimate CVT dibanderol Rp 317,9 juta.

Direktur Indonesian Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mengungkapkan bahwa siklus naiknya harga nikel yang terjadi saat ini lantaran meningkatnya kebutuhan dunia untuk produksi stainless steel.

“Menurut pendapat kami, siklus kenaikan harga nikel ini lebih menggambarkan kebutuhan akan produk stainless steel merangkak naik,” ucapnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (25/4/2024).

Hendra mengatakan Indonesia saat ini masih belum bisa menjadi penentu harga pasar untuk nikel. Hal itu karena pemasok kebutuhan industri komoditas nikel dunia masih dipegang oleh China.

“Sementara pabrik-pabrik pengolahan atau pemurnian nikel juga di tahapan awal operasinya tidak full bukan karena kuota bijih (ore), tapi lebih karena pasar hilirnya (serapan) sedang tidak baik,” tandasnya.

Di sisi lain, melansir S&P Commodity Insights, lonjakan harga nikel disebabkan oleh kekhawatiran pasokan karena persetujuan kuota pertambangan Indonesia yang terhambat.

Secara keseluruhan, pasar nikel yang kuat di kuartal I-2024 mendukung produk lain dalam rantai nilai, termasuk nikel pig iron, sulfat nikel, dan harga MHP.

Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia, mengalami keterlambatan dalam persetujuan pertambangan awal tahun ini yang mengakibatkan kekhawatiran pasokan dan lonjakan harga.

Negara itu telah memperpanjang masa berlaku rencana pertambangan menjadi tiga tahun dari satu tahun, yang mengurangi frekuensi pengajuan kembali kuota tetapi memperlambat waktu persetujuan dan memperlambat persetujuan izin.

Meski demikian, harga nikel diperkirakan akan melemah seiring dengan pasokan bijih nikel akan bertambah secara bertahap di kuartal II-2024 seiring dengan peningkatan persetujuan kuota pertambangan Indonesia dan pengiriman dari Filipina yang pulih setelah musim monsun, yang juga dapat menekan harga nikel ke bawah.

“Kami mengharapkan pasar nikel primer global tetap surplus pada tahun 2024 sebesar 128.000 ton dengan harapan bahwa tekanan ke bawah pada produksi nikel primer Indonesia akan mereda seiring dengan lebih banyak kuota yang disetujui,” kata Jason Sappor, analis senior riset logam dan pertambangan yang dikutip dari S&P Global Commodity Insights.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Heboh Tambang Nikel di Luar Negeri Ramai-Ramai Tutup, Gegara RI?


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *