Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi impor minyak dan gas bumi (migas) RI selama Januari-Maret 2024 mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 145,8 triliun (asumsi kurs Rp 16.200 per US$), naik 8,13% dibandingkan periode yang sama pada 2023 yang sebesar US$ 8,33 miliar.

Impor migas pada kuartal I 2024 tersebut terdiri dari:
– Impor minyak mentah sebesar US$ 2,4 miliar.
– Impor hasil minyak sebesar US$ 6,6 miliar.

Khusus untuk Maret 2024, impor migas RI tercatat sebesar US$ 3,33 miliar, naik 11,64% dibandingkan Februari 2024 yang sebesar US$ 2,98 miliar. Adapun nilai impor minyak mentah RI selama periode Januari-Februari 2024 mencapai US$ 1,5 miliar atau Rp 25,5 triliun, dengan volume 2,6 juta ton.

Berdasarkan data BPS, impor minyak mentah RI mayoritas berasal dari Arab Saudi, Angola, Nigeria, Amerika Serikat, Australia, dan negara lainnya. Berikut data impor minyak mentah RI hingga Februari 2024:

1. Arab Saudi secara volume sebesar 735 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 439 juta.

2. Angola secara volume sebesar 618,3 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 350 juta.

3. Nigeria secara volume sebesar 503 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 296 juta.

4. Amerika Serikat secara volume 214 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 139 juta.

5. Australia secara volume 153 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 102 juta.

6. Lainnya secara volume 413 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 243 juta.

Sementara untuk impor Solar atau HSD pada periode Januari-Februari 2024 secara volume mencapai 1,2 juta ton dengan nilai mencapai US$ 939,1 juta. Adapun mayoritas HSD diimpor dari Singapura, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan lainnya.

Berikutnya, untuk minyak bakar, selama periode Januari-Februari tercatat secara volume impor mencapai 139 ribu ton dengan nilai mencapai US$ 87,7 juta. Mayoritas minyak bakar diimpor dari Malaysia dan Singapura.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif membeberkan impor BBM RI mayoritas berasal dari Singapura, Malaysia, dan India. Sementara untuk minyak mentah berasal dari Arab Saudi, dan negara-negara Afrika seperti Nigeria.

“Kita juga impor BBM dari tiga negara seperti Singapura, Malaysia, dan India. Ini kan harus diantisipasi sumber-sumber supply kilangnya yang ada di Kilang Singapura, Malaysia dan Kilang India. Kalau dulu kan Rusia di banned tetap aja mengambil. Jadi ini memang geopolitik ini serius,” kata Arifin di Kantor Ditjen Migas, dikutip Selasa (23/4/2024).

Sementara itu, untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS).

Arifin mengungkapkan produksi minyak dalam negeri selama ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik sebesar 1,44 juta barel per hari (bph). Saat ini produksi minyak nasional rata-rata hanya berkisar di level 600 ribu bph.

Adapun untuk memenuhi kekurangan tersebut, Indonesia selama ini mengimpor minyak dari berbagai negara dengan total 840 ribu bph. Terdiri dari BBM sebesar 600 ribu bph dan minyak mentah sebesar 240 ribu bph.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Huru-Hara di Laut Merah, Impor Minyak RI Waspada!


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *