Jakarta, CNBC Indonesia – Tekanan penguatan kurs dolar terhadap nilai tukar rupiah yang terjadi beberapa hari terakhir, hingga bertengger di level atas Rp 16.200 per dolar Amerika Serikat, membuat perkiraan sejumlah ekonom terhadap hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia (BI) untuk bulan ini terbelah.

Poling yang dilakukan CNBC Indonesia Research dari 14 institusi menunjukkan bahwa sembilan di antaranya cenderung menahan suku bunganya di level 6%. Sedangkan lima institusi cenderung mengharapkan BI menaikkan suku bunganya ke level 6,25%.

Meski begitu, sejumlah ekonom perbankan menganggap, tanpa BI Rate dinaikkan oleh anggota dewan gubernur BI, sebetulnya rupiah masih bisa menguat ke depan. Dipicu oleh solidnya indikator ekonomi makro Indonesia dan faktor pemicu pelemahan rupiah yang disebabkan faktor musiman.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan, potensi penguatan itu tercermin dari pasokan untuk dolar AS di dalam negeri yang akan membaik, karena kondisi neraca perdagang yang surplusnya meningkat pada Maret 2024 menjadi sebesar US$ 4,47 miliar dari Februari hanya US$ 830 juta.

Sekain itu, aliran modal asing juga ia perkirakan akan kembali masuk ke Indonesia, baik yang berupa hot money atau investasi portofolio maupun investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) seiring kondisi fundamental ekonomi dan politik domestik yang solid seusai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilpres 2024.

“Jadi saya masih lihat belum ada urgensi bagi BI menaikkan BI Rate untuk saat ini. Apalagi tekanan global terhadap Rupiah juga sudah mengendur,” ucap Myrdal.

Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah memang telah menguat terhadap dolar AS. Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,09% di angka Rp16.215/US$ kemarin. Posisi ini selaras dengan penutupan perdagangan kemarin (22/4/2024) yang juga mengalami apresiasi 0,12%.

Sementara itu, indeks dolar atau DXY pada pukul 14:59 WIB kemarin turun ke angka 105,94 atau melemah 0,12%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin yang berada di angka 106,07.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede juga menekankan pelemahan rupiah saat ini sebetulnya lebih disebabkan faktor eksternal, seperti data-data indikator ekonomi AS yang masih solid sehingga membuat khawatir pelaku pasar keuangan dalam melihat ruang pemotongan suku bunga kebijakan the Fed yang alam bergeser dari Juni 2024 ke September 2024.

Untuk faktor domestik, pelemahan rupiah juga lebih disebabkan faktor musiman, seperti pembayaran deviden dan kupon ke non-resident serta pembayaran pokok utang luar negeri yang akan meningkat dan mencapai puncaknya setiap kuartal kedua tiap tahun.

Oleh sebab itu, Josua menganggap, untuk menahan pelemahan Rupiah lebih lanjut, sebenarnya BI masih memiliki amunisi yang cukup banyak atau kuat, didukung oleh cadangan devisa yang masih terbilang relatif tinggi, sehingga BI masih bisa akan masuk dan melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Josua juga menganggap, keputusan BI untuk meningkatkan efektivitas kebijakan triple intervention seperti intervensi yang dilakukan BI pada pasar DNDF, pasar spot, dan SBN sebenarnya sudah membuahkan hasil di tengah gempuran sentimen risk-off yang belakangan ini terus terjadi.

“Pelemahan Rupiah saat ini sudah cenderung semakin terbatas. Cadangan devisa yang terbilang relatif tinggi (US$ 140,39 miliar) juga menjadi modal yang cukup kuat bagi BI,” ucap Josua.

Head of Treasury Bank Commonwealth Yuriadi Sulastomo juga mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini pun bukan disebabkan permasalahan ekonomi domestik, melainkan lebih disebabkan sentimen buruk pelaku pasar keuangan terhadap kondisi global yang penuh ketidak pastian, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga risiko kenaikan suku bunga AS.

“Karena sebenarnya pelemahan rupiah ini kan juga terjadi di semua currency, kayak yen Jepang itu 34 tahun level terendah, dan itu terjadi di semua negara. Beda dengan dulu-dulu yang cuma kita doang, rupiah aja (melemah),” kata Yuri dalam program Central Banking CNBC Indonesia, Jakarta, Selasa (23/4/2024).

Oleh sebab itu, Yuri mengatakan, permasalahan itu tidak bisa diselesaikan BI hanya dengan melalui menaikkan suku bunga acuan, karena berbagai indikator ekonomi Indonesia menunjukkan fakta sebaliknya, mulai dari inflasi yang rendah hingga pertumbuhan ekonomi yang masih belum tinggi.

Tim riset CNBC Indonesia juga mencatat, sebetulnya kenaikan BI Rate secara historis tak ampuh membuat rupiah seketika perkasa. Pada 30 Mei 2018, BI menaikkan suku bunga menjadi 4,5% dan di kala itu, rupiah berada di angka Rp13.985/US$. Rupiah terpantau hanya mampu menguat hingga 6 Juni 2018 dan kemudian dilanjutkan pelemahan yang cukup signifikan.

Alhasil, BI memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga secara beruntun hingga 6% pada November 2018.

Seiring dengan kenaikan suku bunga, rupiah terus mengalami depresiasi dari Rp13.850/US$ pada 6 Juni 2018 menjadi Rp15.230/US$ pada 11 Oktober 2018 atau hanya dalam empat bulan, rupiah menurun sebesar 9,96%.

Sementara pada 23 Agustus 2022, BI kembali menaikkan suku bunganya ke angka 3,75% dan pada saat itu, rupiah berada di angka Rp14.835/US$.

Di tengah kenaikan BI rate yang terjadi secara beruntun secara terus menerus, rupiah terpantau terus melemah hingga menyentuh titik terlemah pada 29 November 2022 di angka Rp15.740/US$ atau dengan kata lain, dalam waktu tiga bulan, rupiah terdepresiasi 6,1%.

Begitu pula, saat RDG BI 19 Oktober 2023 memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke level 6% setelah delapan bulan menahan suku bunganya di level 5,75%.

Pada saat itu, rupiah ditutup di angka Rp15.810/US$ dan sempat menguat hingga periode akhir Desember 2023 atau sekitar 2,5 bulan.

Memasuki 2024, rupiah mengalami depresiasi bahkan anjlok menembus level psikologis Rp16.000/US$. Titik terlemah rupiah yakni berada di angka Rp16.250/US$ pada 19 April 2024.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Catat! BI Janji Tak Kerek Suku Bunga Hingga 2025


(haa/haa)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *