Jakarta, CNBC Indonesia – Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sekalipun, Indonesia telah berkomitmen melakukan transisi energi sesuai target Perjanjian Paris.

Berdasarkan laporan Global Coal Plant Traker, pada 2023 Indonesia menempati peringkat keempat di dunia untuk kapasitas batu bara baru yang diusulkan. Kapasitas PLTU diproyeksikan terus meningkat 13,8 Giga Watt (GW) hingga akhir dekade, merujuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Laporan terbaru Global Energy Monitor menunjukkan, lebih dari seperempat pembangkit listrik tenaga batu bara yang beroperasi di Indonesia adalah captive. Kapasitas pembangkit batu bara captive yang beroperasi di Indonesia saat ini sepuluh kali lebih banyak daripada tahun 2013.

Secara global, data Global Coal Plant Tracker menunjukkan kenaikan sebesar 69,5 GW kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara yang mulai beroperasi di seluruh dunia, sementara hanya 21,1 GW yang ditutup pada 2023.

Artinya, terjadi peningkatan tahunan sebesar 48,4 GW dengan kapasitas total global sebesar 2.130 GW. Ini adalah peningkatan tertinggi dari kapasitas batu bara yang aktif beroperasi sejak 2016.

Lonjakan pembangkit batu bara baru secara global terbesar terjadi di Tiongkok sebesar 47,4 GW, atau sekitar dua pertiga dari penambahan global. Kemudian diikuti oleh kapasitas baru di Indonesia, India, Vietnam, Jepang, Bangladesh, Pakistan, Korea Selatan, Yunani, dan Zimbabwe.

Secara total, kapasitas 22,1 GW mulai beroperasi dan 17,4 GW telah ditutup di luar Tiongkok. Hal ini menandai selisih sebesar 4,7 GW untuk pembangkit listrik batu bara yang beroperasi.

Di sisi lain, penutupan yang lebih rendah di AS dan Eropa juga berkontribusi pada kenaikan kapasitas batu bara secara global. AS menyumbang hampir setengah dari kapasitas yang ditutup pada 2023 dengan total 9,7 GW.

Sedangkan, negara anggota Uni Eropa dan Britania Raya mewakili sekitar seperempat dari penutupan global, dengan Britania Raya (3,1 GW), Italia (0,6 GW), dan Polandia (0,5 GW) memimpin penutupan di wilayah tersebut untuk tahun itu.

“Indonesia sederhananya tidak bisa memangkas pembangkit listrik tenaga batu bara apa pun, terlepas apakah terkait dengan industri tertentu atau tidak, dari perencanaan transisi energi bersih,” kata Lucy Hummer, peneliti di Global Energy Monitor dalam keterangan tertulis, Rabu (24/4/2024).

Sementara, Peneliti Trend Asia Zakki Amali mengatakan, masalah transisi energi di Indonesia adalah struktural. Oleh sebab itu, maka solusinya juga harus bersifat struktural.

Menurut dia, penurunan target energi terbarukan dan peningkatan kuota batu bara, bersama dengan penambahan pembangkit listrik tenaga batu bara baru (PLTU) di Indonesia, menunjukkan langkah mundur dalam transisi energi.

“Pemerintah perlu segera memperbaiki arah sesuai dengan Perjanjian Paris. Upaya luar biasa dan intervensi politik yang kuat diperlukan Indonesia jika ingin melakukan transisi. Tanpa tindakan seperti itu, Indonesia hanya akan merencanakan kegagalan transisi energinya,” kata dia.

Laporan Global Energy Monitor juga menunjukkan:

– Negara-negara industri besar yang tergabung dalam G7 menyumbang 15% (310 GW) dari kapasitas batu bara yang beroperasi di dunia, menurun dari 23% (443 GW) pada 2015. Dengan selesainya unit baru di Jepang pada 2023, G7 tidak lagi memiliki pembangkit batu bara dalam tahap konstruksi, namun masih menjadi tempat bagi satu proposal di Jepang dan dua di AS.

– Negara-negara yang tergabung dalam G20 merupakan rumah bagi 92% kapasitas batu bara yang beroperasi di dunia (1.968 GW) dan 88% dari kapasitas batu bara pra-konstruksi (336 GW).

– Tiongkok dan sepuluh negara yang mengikuti langkahnya menyumbang 95% dari kapasitas pra-konstruksi global. Lima persen sisanya tersebar di 21 negara, 11 di antaranya hanya memiliki satu proyek dan berada di rencana akhir “tidak membangun pembangkit listrik batu bara baru”.

– Pada 2023, penurunan pembangkit batu bara yang terjadi di luar Tiongkok juga diikuti oleh 20,9 GW proposal yang sepenuhnya baru, dalam hal ini dilakukan oleh India (11,4 GW), Kazakhstan (4,6 GW), dan Indonesia (2,5 GW), serta 4,1 GW kapasitas yang sebelumnya ditangguhkan atau dibatalkan, kini diusulkan lagi.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


AS Cs Desak RI Tinggalkan Batu Bara, Tapi Duitnya Mana?


(wia)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *