Jakarta, CNBC Indonesia – Sektor industri di berbagai belahan dunia saat ini telah menetapkan target keberlanjutan demi mencegah terjadinya krisis iklim. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian Schneider Electric dan Omdia yang menemukan bahwa sebanyak 57% industri terkemuka di dunia telah menetapkan target netral karbon untuk mengimbangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Di samping itu sebanyak 47% industri tersebut menyetujui komitmen renewable energy (RE100) untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan (EBT), sedangkan sisanya 36% telah menetapkan target untuk membantu membatasi pemanasan global hingga 1,5-2°C.

Kendati demikian, Industry Business Vice President, Schneider Electric Indonesia, Martin Setiawan menyebutkan, bahwa terdapat beberapa tantangan yang dihadapi industri dalam merealisasikan target tersebut, mulai dari infrastruktur, pendanaan, pengembangan teknologi, hingga pengembangan ekosistem produk hijau.

Ia mengungkap sebanyak 29% pemimpin di sektor manufaktur juga mengatakan bahwa aset dan infrastruktur lama merupakan salah satu tantangan besar. Hal ini tidak mengherankan sebab bangunan, pasokan listrik, dan proses tersebut hadir sebelum adanya teknologi terkini. Sehingga butuh proses dan dana investasi yang tidak sedikit.

Martin pun tak memungkiri bahwa mengganti infrastruktur yang ada dengan yang terbaru akan memakan biaya tinggi dan meninggalkan jejak karbon lebih besar. Namun, kata dia, perusahaan dapat memanfaatkan digitalisasi sebagai pengganti infrastruktur untuk memaksimalkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak yang ditimbulkan.

“Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah melalui penerapan sistem manajemen energi cerdas (Energy Management Systems/EMS) untuk memantau dan mengelola penggunaan energi,” kata dia mengutip hasil penelitian Schneider Electric dan Omdia.

Menurut dia, solusi ini memberikan wawasan tentang kinerja energi secara real-time sekaligus melacak variabel seperti laporan cuaca, hunian gedung serta lokasi untuk mengatur tingkat konsumsi energi yang diperlukan. Sehingga perusahaan hanya menggunakan energi yang benar-benar dibutuhkan.

Biaya atau Anggaran

Selanjutnya, tantangan lain menurut Martin dalam mendorong agenda keberlanjutan adalah masalah biaya. Berdasarkan penelitian tersebut, sebanyak 27% industri mengatakan bahwa biaya menjadi hambatan utama, karena saat ini tidak mudah mengalihkan anggaran operasional bisnis ke agenda keberlanjutan.

Meski demikian, tantangan pembiayaan bisa diakali melalui pendanaan atau investasi. Alasannya para pemangku kepentingan kini mulai menyadari permasalahan lingkungan. Di mana sebesar 60% konsumen di seluruh dunia kini menilai aspek keberlanjutan menjadi kriteria utama sebelum berbelanja, sementara investor cenderung mengedepankan upaya ESG jangka panjang suatu bisnis serta kesehatan keuangannya.

Di Indonesia, industri keuangan telah memulai langkah penting dalam green financing baik dari perbankan maupun pemerintah. Dari pemerintah green financing diterbitkan melalui green bond atau green sukuk, dengan proyek-proyek ramah lingkungan yang spesifik. Sedangkan perbankan memberikan berbagai persyaratan “hijau” yang lebih memperhatikan aspek lingkungan untuk penyaluran kreditnya.

Hingga kuartal III-2021, Otoritas Jasa Keuangan mencatat, nilai pembiayaan berkelanjutan di Indonesia mencapai US$ 55,9 miliar dan penerbitan green bond di pasar domestik tercatat US$ 35,12 juta atau 0,01% dari total outstanding bond.

Persaingan Prioritas dan Akses Data

Tantangan yang lebih luas lagi seperti resesi juga membuat para pemimpin bisnis kini berupaya memangkas pengeluaran dan mengurangi operasi. Terutama jika mereka tidak memiliki data untuk mendukung investasi.

Dalam menghadapi tantangan ini, dia mengimbau, para pemimpin di bidang manufaktur harus kembali menggunakan teknologi optimasi dan manajemen proyek terpusat berbasis cloud. Cara ini dilakukan untuk mendapatkan wawasan berbasis data yang mendukung pengambilan keputusan lebih tepat seputar tindakan terhadap lingkungan.

“Investasi ini dapat memberikan keuntungan langsung melalui pengurangan konsumsi energi, khususnya selama krisis energi global saat ini atau peningkatan efisiensi proses. Faktanya, 49% perusahaan manufaktur mengharapkan peningkatan kinerja dan penghematan biaya ketika berinvestasi pada keberlanjutan,” ujar Martin.

Perubahan Budaya Kerja

Inisiatif keberlanjutan saat ini sangat memerlukan dukungan seluruh pelaku bisnis, dan banyak produsen menjadikan hal ini sebagai tanggung jawab pimpinan senior. Sebanyak 78% perusahaan telah melaporkan bahwa C-level bertanggung jawab langsung dalam mendorong upaya keberlanjutan.

Untuk mengatasi tantangan ini, banyak perusahaan yang membentuk peran spesialis Chief Sustainability Officer (CSO) untuk fokus pada evolusi lingkungan. Hal ini juga terlihat dari permintaan AS terhadap posisi CSO yang tumbuh sebesar 228% dalam satu dekade.

“Keberhasilan dari inisiatif keberlanjutan akan bergantung pada seberapa baik teknologi dan solusi dapat diterapkan dalam operasional sehari-hari dan rencana jangka panjang dengan dukungan karyawan,” ungkap dia.

Memahami Nilai Perubahan

Terakhir adalah tantangan untuk memahami nilai perubahan yang disetujui oleh sebanyak 10% pelaku usaha. Ketika mempertimbangkan manfaat dari keberlanjutan, perusahaan juga harus fokus pada laba atas nilai (ROV) dan bukan hanya laba atas investasi (ROI).

Bagaimanapun, ungkap Martin, sektor manufaktur berada pada tahap awal perjalanan keberlanjutannya. Untuk itu, daripada mengharapkan dampak instan, industri harus menerapkan digitalisasi untuk mendapatkan data dalam meninjau proses, peralatan, budaya organisasi, dan teknologi demi mengidentifikasi dan mengatasi inefisiensi dan pemborosan.

“Singkatnya, komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan sangat penting jika kita ingin mengamankan masa depan manufaktur dan planet kita,” pungkas Martin.

Dalam mengakselerasi solusi agenda berkelanjutan di sektor industri, Schneider Electric mengajak seluruh pihak, komunitas bisnis, korporasi maupun individual untuk menjadi Impact Maker dan membangun ekosistem kemitraan yang mempermudah dimulainya perjalanan sustainability dengan aksi iklim yang terencana dan terukur.

Dengan pengalaman global lebih dari 15 tahun dalam menjalankan praktik sustainability, Schneider Electric ingin membagikan pengetahuan dan menciptakan kolaborasi yang memudahkan dimulainya perjalanan sustainability pada sektor industri.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Schneider Electric Prioritaskan Pembangunan Berkelanjutan


(dpu/dpu)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *